Web Hosting

TV ONLINE

Selasa, 17 Mei 2011

PENYEROBOTAN TANAH TAMBAK DIDESA BUNDER KEC. PADEMAWU PAMEKASAN

Pamekasan, GEGANA.
Manawir Djamoe berumah tangga dengan lasmina dikarunai anak 3 yaitu ; 1. Alm. Munawar, 2. Munasir, 3. Alm. Sittina. Kemudian pada tahun 1940 istri Munawar meninggal dunia terus kawin lagi dengan Siya B. Sitihah mendapat keturunan satu anak yang bernama Mina. Semasa hidupnya Munawar Djamoe betul-betul mempunyai tanah tambak yang terletak di dusun Mondung Desa Bunder Kec. Pademawu Kab. Pamekasan, yaitu :
1.      Nomor Persil 21.D nomor pepel 433 dengan luas ± 14.760 m2 tanah ini hasil pembelian dari Sariat tahun 1937.
2.      Nomor Persil 21 D nomor pepel 432 dengan luas ± 16.105 m2 tanah ini hasil pembelian dari H. Nasirudin.
3.      Nomor Persil 82 D nomor pepel 173 dengan luas ± 64.100 m2 tanah ini hasil pembelian dari Asmo’I Suno tahun 1943.
Semasa hidupnya Munawar Djamoe tanah tambak yang seluas ± 10.000 m2 disuruh Salehan P. Bus, ini segelnya diserahkan kepada anaknya yang bernama Munasir H. Mansur Ds. Bunder Kec. Pademawu Pamekasan. Selanjutnya segel tersebut oleh Munasir H. Mansur dititipkan kepada Salehan P. Bus karena Siya B. Sinal akan menjual tanah peninggalan Alm. Munawar Djamoe. Pada tahun 1964 Munawar Djamoe meninggal dunia semua tanah tambak peninggalan almarhum Monawar Djamoe diserahkan atau dikuasai oleh anak kandungnya Munasir H. Mansur  baik tanah yang ada di nomor persil 21 D pepel 433 dan pepel 432 bahkan Suparto anak kandung Munasir H. Mansur sejak kecil ikut bekerja dilokasi pepel 432 sampai tamat SMA tahun 1978. menurut narasumber pada tahun 1981 ada perangkat desa Bunder Kec. Pademawu Pamekasan yang bernama Mustajab datang kerumah Munasir H. Mansur tujuannya mau pinjam pepel tambak sebentar saja, kata Mustajab. Kemudian oleh orang tua saya  Maisara diserahkan kepada Mustajab, keesokan harinya Munawar H. Mansur disuruh datang ke tambak karena ada pengukuran dari desa, ternyata yang diukur tanah milik Munasir H. Mansur, begitu tahu  tanah yang diukur tanah milik Munasir H. Mansur marah-marah  tetapi tetap diukur dan langsung dikuasai oleh Turi, yang menjadi pertanyaan apa dasarnya perangkat desa Bunder kok berani mengukur dan kok bisa diserahkan langsung oleh Turi. Ada apa dibalik kejadian ini ? berarti pepel tambak nomor 432 diduga mau dihilangkan oleh oknum Kepala Desa Bunder, dan pada tahun 1988 tanah tambak no. persil 21 D pepel no. 433 digarap oleh H. Fadli begitu tahu digarap H. Fadli anak kandung Munasir H. Mansur yaitu Suparto mengundang petugas ukur dari BPN dan disaksikan oleh Muspika setempat.  Kemudian tahun 1991 akhirnya H. Fadli menyerahkan tanah tersebut ke Munasir H. Mansur.
Sesudah H. fadli meninggal dunia tanah tambak nomor pepel 434 dengan luas 18.440 m2 dijual o eh ahli waris keluarga Alm. H. Fadli kepada H. Buhari tetapi anehnya H. Buhari kok mengambil sebagia tanah tambak milik Munasir H. Mansur pepel no. 433 sampai sekarang dengan luas 12.000 m2, Sanawi P. Sinol 1.300 m2, yang menjadi pertanyaan disini kenapa H. Buhari beli no. pepel 434 kok memaksa mengambil pepel no. 433 ?ini jelas-jelas ada indikasi penyerobotan. Kemudian sekitar tahun 1999 ahli waris keluarga Munasir H. Mansur yaitu Suparto menanyakan tentang pepel yang pernah dipinjam oleh Mustajab yang atas nama Munawar Djamoe no. pepel 432, kata Mustajab pepel itu ada di Kaur Pemerintahan Desa Bunder yaitu Lukman Hakim, terus Suparto Tanya pada Lukman Hakim mana pepel tambak a/n. Munawar Djamoe no pepel 432 jawab Lukman Hakim, buat apa pepel yang penting letter C 432 a/n Munawar Djamoe sudah ada dibuku desa.
Dan sekitar tahun 1997 tanah tambak no persil 21 D pepel 432 oleh  P. Turi dijual kepada H. Hasyim akhirnya oleh Suparto ditanyakan ke P. Turi jawab P. Turi ini bukan salah saya silahkan ukur dari desa. Esok harinya Suparto menemui Kades Bunder H. Sahrawi tujuannya ingin mengukur tanah tambak yang diambil Turi, Kades bertanya mana pepel no. 432 ? jawab sampean kan sudah tahu kalau pepel no 432 itu dipinjam oleh desa, kalau tidak ada pepel tidak bisa mengukur tanah tambak karena rahasia Negara, kata kades Sahrawi, akhirnya Suparto mengundang petugas ukur dari BPN / PBB datang ke balai desa Bunder untuk disertifikatkan oleh Suparto kemudian petugas ukur dari BPN dan PBB dipulangkan oleh Kepala Desa Bunder H. Sahrawi.
Semenjak Salehan P. Bus meninggal dunia tahun 2008 tanah tambak no. persil 82 no. pepel 173 luas ± 64.100 m2 a/n. Munawar Djamoe dikuasai / digarap oleh anaknya Alm. Salehan P. Bus yaitu Ersad dan kawan-kawan. Sekarang tanah tambak peninggalan Alm. Munawar Djamoe haknya dipindahkan kepada anak Alm. Salehan P. Bus yaitu ; Ersad, Maleha, Hosma, Syamlawi, Dahlawi, Misna, Sapik yang bukan ahli waris keluarga Alm. Munawar Djamoe, menurut nara sumber yang memindahkan hak tersebut diduga mantan Kepala Desa Bunder Zainollah, ada apa dibalik ini ???
Kemudian tahun 2006 bulan September ada pengukuran ulang/yudikasi di desa Bunder dengan ketua team Sutrisno dengan aparat Desa Bunder, ternyata tanah tambak no. persil 82 no. pepel 173 luas ± 64.100 m2 ikut diukur ini permohonan Ersad cs yang bukan ahli waris keluarga Munawar Djamoe Alm. Setelah itu terbitlah sertifikat dengan adanya terbit sertifikat atas nama Ersad cs ini betul merugikan ahli waris dari Alm. Munawar Djamoe yaitu Suparto.
Harapan Suparto pihak berwajib harus bertindak tegas dalam menyikapi masalah ini karena ini betul-betul kategori tindak pidana penyerobotan tanah tambak. Bersambung …. (TIM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Negara ini Bebas dari Korupsi????

Pengikut

Mengenai Saya

Gresik, Jawa Timur, Indonesia
MENGGALI POTENSI, MENAMPUNG ASPIRASI, MENYEBAR INFORMASI